Galau. Satu kata yang sempat hits di abad 21 ini. Dalam perkembangannya
kata galau sudah merambah pada kata risau hingga muncul akronim baru dalam
sejarah penyingkatan kata yakni Gegana
(gelisah, galau, merana). Hssh! Anak muda!
Eits, ini yang lagi nulis ini juga masih muda lho. *Heem
Pernah gak sih merasakan
galau seperti yang disebutkan di atas? Pernah lah. Setiap orang pasti pernah
merasakan hal di atas. Ada yang tingkatan soft,
medium, dan bahkan hard. And
unfortunatelly, sudah pernah merasakan semuanya.
Pada tingkatan soft, anak
muda yang cendikia cenderung mengartikan galau adalah ketika mendapat nilai
buruk dalam mata pelajaran atau mata kuliah yang diampunya. Dalam tingkatan
ini, anak muda cenderung mengartikan galau sebagai galau jarak pendek. Pada kasus
yang lain, galau bisa terjadi apabila para muda sedang menaruh rasa kepada
lawan jenis dan ternyata si dia sudah punya ikatan pacar dengan yang lain. Pada kasus ini, ini adalah galau yang
paling tidak penting. Ok.
Sekarang kita akan bahas level medium. Medium berarti sedang. Tingkatan tengah-tengah, biasanya
terjadi ketika para muda-mudi sedang pada semester akhir di perkuliahan. Terngiang-ngiang
dosen pembimbing skripsi, ujian kompre, seminar proposal, sidang skripsi, dan
lagi-lagi yang tidak penting seperti yang disebutkan di atas tadi juga sering
muncul menyelimuti hati.
Langsung ke tahap hard.
Hard ini sudah keras sekali. Pada level ini, para muda-mudi bisa dikatakan
sudah menyandang gelar sarjana dan harus segera memutuskan ke manakah kaki akan
melangkah. Banyak jalan yang ditawarkan bagi fresh graduate yang masih hangat-hangatnya. Langsung bekerja
mengamalkan ilmu yang ditempuh selama kuliah, melanjutkan kuliah, membuka usaha
sendiri, atau memilih opsi paling syar’i yakni Zuad. Apa ya itu zuad? Merriage.
Dalam rangka adaptasi menghadapi persaingan global yang
terumus dalam MEA 2017, bekerja adalah pilihan yang bijak. Ada dua alasan
kenapa harus memilih bekerja. Pertama, menyelaraskan diri dengan hadis yang
menyatakan bahwa sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang bermanfaat. Dengan bekerja,
diharapkan ilmu yang didapatkan di kampus bisa bermanfaat untuk diri sendiri
dan juga kemaslahatan umat. Kedua, dengan bekerja para muda-mudi bisa
menghasilkan pundi-pundi uang di usia muda. Selain bisa memenuhi hasrat yang
sempat terpendam ketika kuliah, juga bisa meringankan beban orang tua dan
membuat mereka bangga. Akan tetapi, satu hal yang perlu diingat yakni, sebisa
mungkin usahakan bidang pekerjaan yang dipilih relevan dengan program studi
yang diambil sewaktu di perguruan tinggi. Suatu contoh, banyak sarjana
pendidikan yang lebih memilih bekerja di bank dengan iming-iming pundi-pundi
rupiah. Hal ini yang patut diwaspadai. Ironi memang, karena saya sendiri yang
notabene adalah sarjana pendidikan sempat melamar kerja di bank sebagai front liner (teller dan costumer service). Untungnya
waktu itu, hati tergerak untuk kembali ke jalan yang benar dan tidak menghadiri
ujian tahap wawancara akhir.
Opsi yang kedua yakni melanjutkan kuliah. Memang ada
sebagian orang tua yang beranggapan bahwa anaknya masih terlalu muda dan merasa
kasihan jika langsung bekerja, maka mereka menghendaki putra-putrinya untuk
melanjutkan kuliah ke jenjang magister. Selain didukung dengan rasa sayang yang
berlebihan, dalam hal ini didukung dengan adanya materi. Akan tetapi, ada
beberapa juga para muda-mudi yang memilih untuk berlomba mendapatkan beasiswa
untuk melanjutkan kuliah S2. Banyak juga yang berhasil. Biasanya yang menjadi
momok dalam hal ini adalah kemampuan bahasa Inggris yang berimbas pada nilai
TOEFL. Kebanyakan lembaga pemberi beasiswa mempersyaratkan awardenya memiliki
sertifikat TOEFL ITP dengan skor minimal 500. Satu catatan yang harus
diperhatikan bahwa, tidak ada kata terlambat dalam belajar. Jika ada tekad yang
bagus, insyaAllah akan diberikan jalan. Bagi muda-muda yang ingin hati lanjut
kuliah S2 tetapi biaya belum ada, langkah yang bisa diambil adalah bekerja
terlebih dahulu. Menabung sedikit demi sedikit kelamaan akan menjadi banyak. Tetap
tenang dan hadapi prosesnya.
Membuka usaha sendiri adalah opsi ketiga yang ditawarkan. Dalam
hal ini, sebagai muda-mudi yang kreatif dan inovatif, menciptakan lapangan
kerja dan menjadi bos bagi diri sendiri adalah pilihan yang tepat. Guru Prakarya
dan KWU berperan aktif dalam pemilihan opsi ini. Mulai dari membuka usaha di
bidang seni dan kerajinan dengan menyediakan pernik oleh-oleh atau suvenir, di
bidang teknik otomotif dengan membuka bengkel, di bidang pendidikan dengan
membuka lembaga bimbingan belajar, hingga bidang life style dengan membuka butik yang menjual beraneka ragam pakaian
dan aksesori yang kekinian.
Sampailah pada opsi terakhir: Zuad. Menikah. Ini yang tadi saya
katakan syar’i tadi. Kenapa syar’i? Karena memenuhi sunah rasul-Nya. Usia 20-an
adalah usia ideal untuk menikah dan menghasilkan keturunan. Selain mendapatkan
pahala karena mengurangi maksiat, secara biologis pada usia ini adalah masa
yang bagus untuk bereproduksi. Akan tetapi, yang harus dipahami betul bahwa
menikah adalah perkara sakral yang hanya boleh dilakukan sekali seumur hidup. Itu
persepsi saya. Setelah menikah, surga bagi istri adalah suami. Ini yang harus
betul-betul diperhatikan para mudi. Bagaimanapun seorang istri harus nurut
suami. Berbeda dengan sang suami yang surganya adalah ibunya. Jadi, para
muda-mudi jangan pernah egois. Menikah bukan perkara menikah antara dua insan
saja tetapi harus menikahkan keluarga. Jangan berkecil hati apabila ingin
menikah tetapi keluarga belum memberikan restu atau justru masalahnya karena
belum dipertemukan dengan jodoh yang pas dengan keinginan hati. Tetap tenang. Semua
sudah ada yang mengatur. Sebagai makhluknya ikhtiar adalah pilihan yang
sempurna. Berusaha mamantaskan diri untuk jodoh terbaik dengan senantiasa
memperbaiki diri serta jangan lelah untuk antre memanjatkan doa.
Kembali ke bahasan semula. Apakah vocab galau masih patut untuk disemarakkan? Jawabannya adalah TIDAK. Jangan
buang waktu untuk bergalau ria. Syukuri segala yang telah ada. Hadapi segala
persoalan dengan tenang dan bijak karena semua pasti ada solusinya. Yakin bahwa
sesudah kesulitan ada kemudahan. Berhentilah berkonflik dengan batinmu sendiri. Say NO to Galau and Let's Move Move Move!