Selasa, 22 Agustus 2017

Gegana?

Galau. Satu kata yang sempat hits di abad 21 ini. Dalam perkembangannya kata galau sudah merambah pada kata risau hingga muncul akronim baru dalam sejarah penyingkatan kata yakni Gegana (gelisah, galau, merana). Hssh! Anak muda!
Eits, ini yang lagi nulis ini juga masih muda lho. *Heem

Pernah gak sih merasakan galau seperti yang disebutkan di atas? Pernah lah. Setiap orang pasti pernah merasakan hal di atas. Ada yang tingkatan soft, medium, dan bahkan hard. And unfortunatelly, sudah pernah merasakan semuanya.

Pada tingkatan soft, anak muda yang cendikia cenderung mengartikan galau adalah ketika mendapat nilai buruk dalam mata pelajaran atau mata kuliah yang diampunya. Dalam tingkatan ini, anak muda cenderung mengartikan galau sebagai galau jarak pendek. Pada kasus yang lain, galau bisa terjadi apabila para muda sedang menaruh rasa kepada lawan jenis dan ternyata si dia sudah punya ikatan pacar dengan yang lain. Pada kasus ini, ini adalah galau yang paling tidak penting. Ok.

Sekarang kita akan bahas level medium. Medium berarti sedang. Tingkatan tengah-tengah, biasanya terjadi ketika para muda-mudi sedang pada semester akhir di perkuliahan. Terngiang-ngiang dosen pembimbing skripsi, ujian kompre, seminar proposal, sidang skripsi, dan lagi-lagi yang tidak penting seperti yang disebutkan di atas tadi juga sering muncul menyelimuti hati.

Langsung ke tahap hard. Hard ini sudah keras sekali. Pada level ini, para muda-mudi bisa dikatakan sudah menyandang gelar sarjana dan harus segera memutuskan ke manakah kaki akan melangkah. Banyak jalan yang ditawarkan bagi fresh graduate yang masih hangat-hangatnya. Langsung bekerja mengamalkan ilmu yang ditempuh selama kuliah, melanjutkan kuliah, membuka usaha sendiri, atau memilih opsi paling syar’i yakni Zuad. Apa ya itu zuad? Merriage.

Dalam rangka adaptasi menghadapi persaingan global yang terumus dalam MEA 2017, bekerja adalah pilihan yang bijak. Ada dua alasan kenapa harus memilih bekerja. Pertama, menyelaraskan diri dengan hadis yang menyatakan bahwa sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang bermanfaat. Dengan bekerja, diharapkan ilmu yang didapatkan di kampus bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan juga kemaslahatan umat. Kedua, dengan bekerja para muda-mudi bisa menghasilkan pundi-pundi uang di usia muda. Selain bisa memenuhi hasrat yang sempat terpendam ketika kuliah, juga bisa meringankan beban orang tua dan membuat mereka bangga. Akan tetapi, satu hal yang perlu diingat yakni, sebisa mungkin usahakan bidang pekerjaan yang dipilih relevan dengan program studi yang diambil sewaktu di perguruan tinggi. Suatu contoh, banyak sarjana pendidikan yang lebih memilih bekerja di bank dengan iming-iming pundi-pundi rupiah. Hal ini yang patut diwaspadai. Ironi memang, karena saya sendiri yang notabene adalah sarjana pendidikan sempat melamar kerja di bank sebagai front liner (teller dan costumer service). Untungnya waktu itu, hati tergerak untuk kembali ke jalan yang benar dan tidak menghadiri ujian tahap wawancara akhir.

Opsi yang kedua yakni melanjutkan kuliah. Memang ada sebagian orang tua yang beranggapan bahwa anaknya masih terlalu muda dan merasa kasihan jika langsung bekerja, maka mereka menghendaki putra-putrinya untuk melanjutkan kuliah ke jenjang magister. Selain didukung dengan rasa sayang yang berlebihan, dalam hal ini didukung dengan adanya materi. Akan tetapi, ada beberapa juga para muda-mudi yang memilih untuk berlomba mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah S2. Banyak juga yang berhasil. Biasanya yang menjadi momok dalam hal ini adalah kemampuan bahasa Inggris yang berimbas pada nilai TOEFL. Kebanyakan lembaga pemberi beasiswa mempersyaratkan awardenya memiliki sertifikat TOEFL ITP dengan skor minimal 500. Satu catatan yang harus diperhatikan bahwa, tidak ada kata terlambat dalam belajar. Jika ada tekad yang bagus, insyaAllah akan diberikan jalan. Bagi muda-muda yang ingin hati lanjut kuliah S2 tetapi biaya belum ada, langkah yang bisa diambil adalah bekerja terlebih dahulu. Menabung sedikit demi sedikit kelamaan akan menjadi banyak. Tetap tenang dan hadapi prosesnya.

Membuka usaha sendiri adalah opsi ketiga yang ditawarkan. Dalam hal ini, sebagai muda-mudi yang kreatif dan inovatif, menciptakan lapangan kerja dan menjadi bos bagi diri sendiri adalah pilihan yang tepat. Guru Prakarya dan KWU berperan aktif dalam pemilihan opsi ini. Mulai dari membuka usaha di bidang seni dan kerajinan dengan menyediakan pernik oleh-oleh atau suvenir, di bidang teknik otomotif dengan membuka bengkel, di bidang pendidikan dengan membuka lembaga bimbingan belajar, hingga bidang life style dengan membuka butik yang menjual beraneka ragam pakaian dan aksesori yang kekinian.

Sampailah pada opsi terakhir: Zuad. Menikah. Ini yang tadi saya katakan syar’i tadi. Kenapa syar’i? Karena memenuhi sunah rasul-Nya. Usia 20-an adalah usia ideal untuk menikah dan menghasilkan keturunan. Selain mendapatkan pahala karena mengurangi maksiat, secara biologis pada usia ini adalah masa yang bagus untuk bereproduksi. Akan tetapi, yang harus dipahami betul bahwa menikah adalah perkara sakral yang hanya boleh dilakukan sekali seumur hidup. Itu persepsi saya. Setelah menikah, surga bagi istri adalah suami. Ini yang harus betul-betul diperhatikan para mudi. Bagaimanapun seorang istri harus nurut suami. Berbeda dengan sang suami yang surganya adalah ibunya. Jadi, para muda-mudi jangan pernah egois. Menikah bukan perkara menikah antara dua insan saja tetapi harus menikahkan keluarga. Jangan berkecil hati apabila ingin menikah tetapi keluarga belum memberikan restu atau justru masalahnya karena belum dipertemukan dengan jodoh yang pas dengan keinginan hati. Tetap tenang. Semua sudah ada yang mengatur. Sebagai makhluknya ikhtiar adalah pilihan yang sempurna. Berusaha mamantaskan diri untuk jodoh terbaik dengan senantiasa memperbaiki diri serta jangan lelah untuk antre memanjatkan doa.


Kembali ke bahasan semula. Apakah vocab galau masih patut untuk disemarakkan? Jawabannya adalah TIDAK. Jangan buang waktu untuk bergalau ria. Syukuri segala yang telah ada. Hadapi segala persoalan dengan tenang dan bijak karena semua pasti ada solusinya. Yakin bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan. Berhentilah berkonflik dengan batinmu sendiri. Say NO to Galau and Let's Move Move Move!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Gegana?

Galau. Satu kata yang sempat hits di abad 21 ini. Dalam perkembangannya kata galau sudah merambah pada kata risau hingga muncul akronim bar...