Sabtu, 19 Agustus 2017

Pudarnya Etika Berbahasa

Dalam berkomunikasi baik lisan maupun tulis diharapkan setiap orang menyampaikan bahasa yang tidak menyinggung perasaan orang lain. Bahasa yang tidak meyinggung perasaan orang lain adalah bahasa yang disampaikan dengan memenuhi etika berbahasa. Etika berbahasa ini merupakan kaidah dalam menggunakan bahasa Indonesia tidak hanya benar tetapi juga baik. Etika berbahasa ini meliputi cara tindak tutur yang disampaikan dengan santun dan menghargai lawan bicara. Pemilihan kata yang tepat merupakan salah satu kiat yang bisa dilakukan. Pemilihan kata dalam berbicara dapat melukiskan kepribadian seseorang. Semakin orang itu dewasa, harusnya semakin bagus dan bijak juga hal yang disampaikan.

Ironisnya, belakangan ini acapkali kita temui orang yang berkata tanpa memperhatikan lawan bicara. Seringkali seseorang begitu percaya diri dengan yang dikatakan dan tidak ingin sipapun mematahkan perkataannya. Tanpa mengetahui apakah lawan bicara bisa menerima dengan baik, tersinggung, atau bahkan merasa tidak dihargai. Benar pepatah yang mengatakan bahwa
Lidah lebih tajam daripada pedang.
Kata yang diucapkan keluar dari mulut harus betul-betul difilter agar lawan bicara tidak terluka dengan apa yang diucapkan. Jikalau luka fisik bisa kering dan sembuh, lain halnya dengan luka hati yang begitu sulit disembuhkan. Terkadang hingga bertahun-tahun pun masih membekas dan tidak bisa hilang.

Bertitik dari itu, menegakkan kembali etika berbahasa adalah sebuah pilihan. Orang akan menghargai kita sebagaimana kita menghargai mereka. Mari terus berupaya melakukan perbaikan diri. Menjadi pribadi yang rendah hati lebih mulia daripada menjadi tinggi hati yang kelamaan akan menyebabkan rendah diri.

Selamat hari Minggu, semoga bahagia selalu.
Fay

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Gegana?

Galau. Satu kata yang sempat hits di abad 21 ini. Dalam perkembangannya kata galau sudah merambah pada kata risau hingga muncul akronim bar...